Cerpen: Rencana Pembunuhan Al Khawarizmi

Tangan Galih mengepal ketika mendengar kata aljabar. Karena aljabar, ia diputuskan untuk tidak naik kelas. Galih tidak bisa sama sekali aljabar. Baginya rumus aljabar benar-benar rumit dan susah dipahami. Dari 45 soal ulangan akhir semester, 25 diantaranya soal Aljabar. Ia sama sekali tidak bisa mengerjakan. Alhasil, nilai matematika Galih hanya 33 saja.

Galih merupakan seorang pelajar kelas 7 atau SMP kelas 1. Ia dinyatakan tidak naik kelas karena nilai Matematikanya jauh di bawah standar. Tak hanya matematika, nilai pelajaran IPA juga jauh dari standar.  Ketika mengetahui Galih tidak naik kelas, orang tua Galih begitu terpukul. Sesampai di rumah, tanpa banyak berbicara, Galih dipukul dengan sapu oleh ayahnya. Pukulan sapu yang cukup keras membuat Galih berteriak histeris. Bahkan sapu tersebut patah saking kerasnya. Pukulan sapu membuat bekas warna merah di punggung Galih. Galih bertanya-tanya kepada sang ayah mengapa ia dipukul dengan sapu. Orang tua Galih dengan wajah marahnya melempar rapor Galih yang bertuliskan ‘tidak naik kelas’. Merasa terpukul, Galih segera lari terbirit-birit sambil menangis tak keruan.

…….

Sudah 3 hari Galih tidak pulang ke rumah. Poster pencarian orang hilang mulai tersebar di media sosial dan tertempel di dinding-dinding jalanan. Orang tua Galih menawarkan imbalan yang besar bagi siapa saja yang berhasil menemukan Galih. Galih sendiri sudah tahu ia sedang dicari orang tuanya. Hanya saja, Galih mengakali dengan terus memakai masker.

Selama 3 hari, Galih bertahan hidup dengan makan makanan di bak sampah. Seusai mencari makan, Galih memilih tidur di kolong jembatan. Ia hanya melamun sambil tangannya mengepal. Terlihat raut wajah benci dari Galih. Galih selalu menyebut satu nama di kondisi saat ini. Nama yang Galih sebut, Al Khawarizmi, nama seorang laki-laki yang menurut Internet sebagai penemu rumus Aljabar.

Sambil menahan rasa lapar, Galih menyebut nama itu  disertai kalimat ‘aku pasti membunuh dia!’. Galih sangat benci dengan Al Khawarizmi. Andaikan Al Khawarizmi tidak ada, pasti tidak ada Aljabar dan pastinya tidak menderita seperti ini. Sambil terus mengucap nama Al Khawarizmi, Galih terlelap di tengah hiruk pikuk suara kendaraan yang penuh dengan ambisi.

…….

Galih setengah terkaget dengan suasana di sekitarnya. Suara kendaraan yang sering ia dengar di kolong jembatan, sudah berganti dengan suara angin yang menerpa pasir. Hawa panas khas negara Timur Tengah mulai Galih rasakan. Tidak jauh dari tempat Galih tergeletak, ada seorang laki-laki berjenggot menghampiri Galih. Setelah mendekat, laki-laki tersebut menyapa dan bertanya sesuatu kepada Galih.

“Sudah bangun?” Kata laki-laki tersebut memakai bahasa Arab. Herannya Galih mengerti arti bahasa Arab tersebut. Semuanya menjadi tak masuk akal sekarang.

“Siapa kamu?” Tanya Galih dengan bahasa Arab juga. Galih hanya geleng-gelang tak percaya dengan kalimat yang barusan ia utarakan.

“Muhammad Bin Musa, seseorang yang menungguimu bangun. Kau tertidur di gurun” jawab pria berjanggut yang disambut wajah bingung Galih.

Setelah itu, Galih dibawa oleh Muhammad Bin Musa ke sebuah tempat. Tempat itu sangat sepi. Suasana tempat tersebut tidak menunjukan tanda-tanda kehidupan, bak Galih sedang berada di masa lalu saja. Meski bersuasana bak zaman terdahulu yang masig tertinggal, namun Muhammad Bin Musa tetap menjamu Galih dengan jamuan terbaik. Muhammad Bin Musa memberi Galih roti, susu dan kurma. Dengan raut bingungnya, Galih masih terdiam sambil meminum susu dan mengambil 3 biji kurma.

Melihat Galih yang seperti orang linglung, Muhammad Bin Musa menanyakan sesuatu hal kepada Galih.

 “Apa masalahmu, mengapa kau bida tertidur di gurun” tanya Muhammad Bin Musa.

Galih hanya menjawab dengan sebuah gelengan.

“Terus, sebelum kau tertidur di gurun, apa kau ingat sesuatu?”

“Aljabar” jawab Galih pelan.

Muhammad Bin Musa hanya tersenyum, sambil mengajak Galih ke suatu tempat. Tempat tersebut sangat dipenuhi dengan penggaris dan coret-coretan angka. Muhammad Bin Musa bertanya lagi kepada Galih.

“Aljabar seperti ini?” Muhammad Bin Mussa menunjuk salah satu soal aljabar di papan tulisnya. Galih mengangguk.

Lalu dengan tersenyum, Muhammad Bin Musa menjelaskan dengan pelan-pelan dan penuh perasaan. Cara menjelaskan Muhammad Bin Musa sangat mudah dipahami Galih. Penjelasan Muhammad Bin Musa seperti layaknya magnet, mampu membuat Galih terus  tertarik dengan apa yang dijelaskan Muhammad Bin Musa.

Galih sangat terkesima dengan penjelasan Muhammad Bin Musa tentang aljabar. Galih tidak pernah tahu, ada seseorang yang sehebat ini dalam menjelaskan pelajaran Matematika khususnya aljabar. Galih mulai sedikit paham tentang Aljabar. Bahkan Galih mulai merasakan ketertarikan terhadap aljabar.

Terkesannya Galih dengan cara mengajar Muhammad bin Musa membuat Galih ingin bertanya satu hal. Ya, Galih penasaran siapa sebenarnya Muhammad Bin Musa. “Siapa sebenarnya kamu?”

Muhammad Bin Musa tersenyum sambil menjawab, “penemu Aljabar, Muhammad Bin Musa Al Khawarizmi”

…..

Terkaget mendengar nama Al Khawarizmi, membuat denyut jantung Galih berdetak kencang. Denyut jantung yang kencang, membuat Galih terbangun dari mimpinya. Galih terbangun tengah malam dan sedang dihadapkan dengan soal Aljabar. Ya, besok Galih akan menghadapi ujian akhir semester pelajaran Maematika. Mimpi tidak naik kelas dan mimpi bertemu Al Khawarizmi membuat Galih sangat syok. Kedua mimpi tadi seolah-olah terlihat sangat nyata. Rasa sakit karena dipukul ayah memakai sapu masih terasa. Bau menyengat tempat sampah pun masih bisa dirasakan. Galih pun masih bisa mengingat dengan jelas wajah Al Khawarizmi.

Malam itu Galih mendapatkan hal yang diluar nalarnya. Ia sedang bermimpi, dimana di dalam mimpinya ia sedang bermimpi, lalu di dalam mimpinya lagi ia bermimpi lagi. Triple dream baru saja ia rasakan. Selain triple dream, ia bisa melihat betapa marahnya sang ayah ketika mengetahui anaknya tidak naik kelas. Lalu betapa susahnya, hidup dengan menggelandang penuh dengan rasa malu. Galih tidak suka dengan mimpi itu.

Dengan semangat dan dipikirannya tertangkap senyum Al Khawarizmi, Galih memegang kembali pulpennya. Ia belajar sekali lagi tentang soal-soal Aljabar sebagai persiapan ujiannya. Anehnya, soal yang sebelumnya terasa sangat sulit, malah terasa sangat mudah. Di malam yang menunjukkan pukul 01.00 dini hari, Galih menunjuk satu soal nomor 27 sambil berkata: “Ini seperti contoh soal Al Khawarizmi”. Dengan setengah tidak percaya, Galih memang merasa sangat mudah mengerjakan soal-soal Aljabar tersebut. Sungguh bunga tidur yang sangat membingungkan bagi Galih.

……

Terinspirasi dari teman reporter media online yang sangat ingin membunuh penemu Aljabar, karena pada saat itu ia diberi tugas membuat artikel dengan keyword SEO ‘fungsi aljabar’.

Artikel Lainnya