3 Macam Endapan Hidrotermal, Lengkap dengan Penjelasan

Sesuai dengan temperatur, tekanan dan kondisi geologi pada saat pembentukannya endapan hidrotermal bisa dibagi menjadi 3 jenis, endapan hipotermal, endapan mesotermal dan endapan epitermal menurut Lindgren dan Evans 1993. Jenis-jenis endapan tersebut bisa dijelaskan di bawah ini.

Intrusi vulkanik dan fluida hidrothermal yang mengalami interaksi dengan batuan samping dan menghasilkan beberapa macam cebakan mineral logam oleh proses hidrothermal (Sillitoe, 1999)

1. Endapan Hipotermal

Endapan Hipotermal merupakan berasosiasi dengan dike (korok) atau vein (urat) dengan kedalaman yang besar. Biasanya endapan hipotermal terdapat Wall Rock Alteration, dicirikan oleh adanya replacement yang kuat dengan asosiasi mineral seperti albit, biotit, kalsit, pirit, kalkopirit, kasiterit, emas, hornblende, plagioklas, dan kuarsa.

Endapan ini terdapat juga asosiasi mineral sulfida dan oksida pada intrusi granit sering diikuti pembentukan mineral logam, yakni : Au, Pb, Sn, dan Zn. Endapan ini memiliki tekanan dan temperatur relatif paling tinggi yakni 500°C – 600°C. Endapan hiotermal adalah jebakan hidrotermal paling dalam.

2. Endapan Mesotermal

Endapan mesotermal terletak diaras hipotermal berupa cavity filling dan terkadang mengalami proses replacement dan pengayaan. Endapan ini merupakan asosiasi dari mineral klorit, emas, serisit, kalsit, pirit dan kuarsa. Endapan ini juga memiliki asosiasi mineral sulfida dan oksida batuan beku asam dan basa dekat permukaan. Ciri khasnya yaitu memiliki tekanan dan temperatur medium 300°C – 372°C.

3. Endapan Epitermal

Endapan epitermal adalah endapan metalliferous yang terbentuk pada suhu 50°C – 300°C dan terletak paling jauh dari tubuh intrusi. Sumber panas utama yang membentuk endapan ini merupakan fluida panas yang bergerak naik dari lokasi intrusi menuju lokasi terbentuknya endapan ini. Terbentuknya endapan ini melewati zona endapan mesotermal dan umumnya terbentuk pada batuan induk berupa batuan batuan vulkanik biasanya berupa piroklastik subaerial dan batuan sedimen volkanik.

Batuan yang sering dijumpai adalah andesit, riolit, serta dasit yang mempunyai afinitas kalk-alkali, dan sangat jarang dijumpai endapan ini berasosiasi dengan batuan beku yang mempunyai afinitas alkalin maupun shosonit (White & Hedenquist, 1996). Menurut Hedenquist  (1986) membagi sistem epitermal menjadi dua tipe yang dibedakan berdasarkan sifat kimia fluidanya yakni sulfida rendah (low sulphidation) dan sulfida tinggi (high sulphidation).  Pembagian lainnya juga berdasarkan alterasi dan mineraloginya (Heald et al, 1997, dalam Hedenquist, 1986) yaitu tipe acid sulphate untuk sulfida tinggi dan adularia sericite untuk sulfida rendah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hedenquist, J.W. 1986. Mineralization Association Associated With Volcanic-Related Hydrothermal Systems In The Circum-Pacific Basin. New Zealand: Geothermal Reasearch Center, D.S.I.R.

Sillitoe, R.H. 1999. Styles of high sulfidation gold, silver, and copper mineralization in porphyry and epithermal environments. Pacific Rim ’99 congress, Bali, Indonesia. Melbourne: Australian Institute of mining and Metallurgy.

White, N.C and Hedenquest J.W. 1996. Epihtermal gold deposits: styles, characteristics, and exploration. Tokyo: Society of Resource Geology.

Tentang Penulis

Akbar Najib
Akbar Najib