Cerita Horor Gunung Lawu: Gangguan Itu Nyata (Part 2)

Malam pertama dimulai setelah kami makan makanan hangat buatan sendiri yaitu sayur, nasi dan kornet tumis. Kondisi Pos 5 berada sebelum padang savana dan diapit oleh 2 bukit, menjadikannya tempat paling cocok untuk mendirikan tenda. Selain pemandangannya yang asik saat pagi, saat malampun angin tidak begitu kencang sehingga tidurpun lumayan nyenyak walau suhu dingin.
Tidak ada yang aneh di tenda laki-laki, tetapi tenda perempuan mengaku sedikit diganggu oleh mahkluk gaib dengan dibuka resletingnya. Padahal resleting tenda mereka berada di dalam, cukup membuat tidak bisa tidur.

Pagi pun datang, setelah sarapan kami mendaki keatas dengan meninggalkan carrier di Tenda. Melewati cantiknya padang savana yang diguyur hujan semalam. Juga melewati Pasar dieng yaitu makam diatas gunung Lawu. Hingga kami beristirahat sejenak di Warung Mbok Yem menikmati secangkir kopi dan melanjutkan perjalanan untuk menyematkan saudara kami di puncak Gunung Lawu Hargo Dumilah 3265 Mdpl.

Setelah menyelesaikan rangkaian acara kami kembali ke Warung Mbok Yem untuk makan siang nasi pecel buatannya. Sayangnya kami terjebak hujan selama 2 jam, dan memutuskan untuk turun karna sudah jam 16.00. Kami melewati padang savana dengan kondisi hujan tetapi begitu berenergi hingga sampai di Pos 5 jam 17.00.

Kami berkemas menutup tenda dan berniat untuk turun ke basecamp dengan target sampai jam 21.00. Begitu bersemangatnya kami saat diperjalanan Pos 5 – Pos 4 dan meyetel lagu sepanjang perjalanan. Begitu terkejutnya kami walaupun kondisi hujan tapi kami berhasil sampai di Pos 4 hanya dengan waktu 30 menit yaitu jam 18.30, padalah naiknya butuh waktu 2,5 jam. Semakin optimis dan percaya diri kami bisa pulang dengan cepat.

Tetapi saat rasa percaya diri itu muncul, saat itu juga rasa tidak nyaman yang kurasakan semakin menguat. Masih ingat sosok hitam besar dan wanita berbaju putih sebelumya? saya melihat mereka dari kejauhan mengawasi kami dan mengikuti kami tentunya tetapi mereka tidak mengganggu. Dari sini juga medan jalan setapak tidak berpihak pada kami.

Jalan yang telah diguyur hujan tadi menjadi licin untuk dilalui, kamipun harus meraba-raba pepohonan, ranting maupun akar dikanan kiri kami agar aman dan tidak terjatuh. Perjalanan kami melambat, melambat sekali dibanding sebelumnya, walaupun begitu kami masih berpapasan dengan pendaki yang menuju ke puncak.

Gurauan dan candaan di perjalan itu menjadi penyemangat kami. Seperti pemimpin jalan bilang “lewat kanan, sebelah kiri licin”, eh setelah itu yang belakang malah bilang “Yah bang terlanjur” (dia sudah terlanjur ambil kiri) akhirnya jatuh dan kami tertawa. Lalu candaan ketika ada yang jatuh, dan ada yang bilang “Yah gitu doang jatuh, gapunya skill tuh haha” tapi setelah itu dia yang jatuh dan kami tertawa terbahak – bahak. Candaan seperti itu terus berlanjut.

Kami tiba di Pos 3 jam 20.30, sama dengan waktu kami naik 2 jam. Jujur medan yang tidak mendukung seperti ini berat untuk kami, licin membahayakan. Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan. Pada akhirnya ada suatu candaan yang membuat kami merasa perjalanan ini gak beres. Ada teman kami yang menyebut “Abu Janda, Abu Lahab atau Abu-Abuan” sebagai guyonan. Setelah guyonan itu, satu persatu kejadian mulai bermunculan.

Mulai dari pembuka jalan yang salah nyenter saat mencari jalan melihat bayangan hitam, begitu juga dengan anggota yang paling belakang. Kemudian saat teman kami jatuh, pasti anggota yang lain menertawakannya, setelah ada yang jatuh ke tiga kali, yang kudengar buka tawa temanku, melainkan suara Jin wanita dewasa atau kuntilanak.

Seketika bulu kudukku merinding, merasa kami tidak lagi aman karna aku menyadari candaan Abu Lahab itu tidak lucu sama sekali. Bagi pembaca yang beragama muslim pasti tau bahwa Abu Lahab merupakan musuh Rasulullah SAW dan terkenal kebenciannya terhadap islam. Saya juga tidak tau mengapa, sebelumnya anggota kami berkata kata-katakotor tetapi kami tidak diganggu sama sekali, tetapi ketika candaan Abu Lahab dilontarkan, gangguan itu nyata adanya.
Beberapa dari kami juga diganggu oleh makhluk berbentuk anjing yang ikut mengiringi kami sepanjang perjalanan. Juga adanya suara Andong / Delman yang didengar hampir semua orang. Puncaknya ketika teman kami M jatuh terpeleset tanah yang licin ke arah kanan dan tertiban carriernya, seperti tidak wajar bisa terjatuh.

Walaupun licin tetapi pijakan itu masih kokoh, benar saja, ternyata aku melihat sosok hitam besar berada disampingnya, M terluka sedikit dan masih bisa melanjutkan perjalanan. Semuanya menyadari kami diganggu dan anehnya lagi sepanjang perjalanan Pos 3 – Pos 2 kami tidak berpapasan sama sekali dengan pendaki lain.

Kami tiba di Pos 2 jam 22.30, 2 jam. Disini kami semua sudah merasakan gangguan sebelumnya dan memiliki 2 pandangan. Ada yang berpendapat bermalam di shelter Pos 2 dan ada yang ingin sekali melanjutkan turun (karena sudah tidak tahan gangguannya). Jika kami melajutkan turun kurang lebih 3 jam. Akhirnya 5 orang tetap turun sedangkan 10 orang lainnya bermalam di shelter.
Seperti kami yang membagi menjadi 2 kelompok, nampaknya gangguan juga terbagi, ada yang mengikuti 5 orang yang turun tadi dan ada yang menetap.

Kami yang menetap menutup shelter dengan flying sheet tenda, membuat makanan hangat dan tidur. Sekalinya ada anggota buang air kecil, dia bilang “gelapnya beda”. Dan benar saja gangguan terjadi lagi, badai angin menerjang shelter kami, dan tanah bergetar karna akar yang menahan angin. Sekiar jam 02.00 puncaknya, kami semua mendengar ada orang yang berlari mengelilingi kami dengan tangan yang menggesek shelter. Juga bunyi delman yang terus menerus mengelilingi kami. Berlanjut hingga jam 4 pagi. Setelah itu berkahir semua gangguan dan kami turun ke basecamp jam 9.00 pagi setelah sarapan, dan sampai jam 11.00. Sedangkan kelompok sebelumnya tiba jam 02.30 pagi.

Memang benar apa adanya keberadaan makhluk gaib seperti itu, dimanapun kita berada, kita harus memposisikan diri kita sebaik mungkin, sesopan mungkin, dan berkata sebaik mungkin, karna itu bukan tempat kita. Jadilah pribadi yang berkarakter dan berakhlak baik, niscaya Tuhan akan melindungi kita dimanapun kita berada.

Artikel Lainnya