Review Buku Cantik Itu Luka Karya Eka Kurniawan

Judul: Cantik Itu Luka

Karya: Eka Kurniawan

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit Awal: 2002 (oleh AKYPress dan Penerbit Jendela)

Jumlah Halaman: 505

Sinopsis

Di akhir masa kolonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak gadis yang kesemuanya cantik. Ketika mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa. Itulah yang terjadi, meskipun secara ironik ia memberinya nama si Cantik.

“Perihal berbagai gaya dan bentuk yang diaduk jadi satu ini, Cantik itu Luka memang sebuah penataan berbagai capaian sastra yang pernah ada.”

–Alex Supartono, Kompas

“Mencermati isinya, kita seperti memasuki sebuah dunia yang di sana, segalanya ada.”

–Maman S. Mahayana, Media Indonesia

“Inilah sebuah novel berkelas dunia! Membaca novel (…) ini, kita akan merasakan kenikmatan yang sama dengan nikmatnya membaca novel-novel kanon dalam kesusastraan Eropa dan Amerika Latin.”

–Horison

“It is nice that, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor. The young Sundanese Eka Kurniawan has published two astonishing novels in the past half-decade. If one considers their often nightmarish plots and characters, one could say there is no hope. But the sheer beauty and elegance of their language, and the exuberance of their imagining, give one the exhilaration of watching the first snowdrops poke their little heads up towards a wintry sky.”

—Benedict R. O’G. Anderson, New Left Review

== Telah diterjemahkan ke bahasa Jepang dan Malaysia ==

Interested Thing

Saya tidak pernah terpikirkan bisa membaca buku dengan tebal lebih dari 500 halaman. Tapi buku ini sangat sempurna. Buku edan, buku gila dan buku tidak biasa. Buku yang bagi saya tidak ada celah sama sekali. Benar-benar terstruktur dan saling terhubung.

Karakter yang dibangun sangat kuat. Runtutan cerita alur maju mundur nya juga nyaman untuk dibaca. Selesai kata ‘sebab cantik itu luka’ halaman terakhir, segala pertanyaan di otak saya sirna. Buku ini menyelesaikan cerita tanpa menyisakan tanda tanya. Hebat.

Best Moment

Saya langsung tercekat dengan bab pembuka yang gila segila-gilanya. Bagaimana bisa orang yang sudah 21 tahun di kuburkan dan bangkit lagi. Nyatanya itu menjadi pembuka yang surealis dan kuat bagi jalan ceritanya. Selain momen Dewi Ayu bangkit dari kubur, saya menyukai bagian kehidupan masa lalu Ma Gedik sebelum bertemu Ma Iyang. Edan euy. Juga kisah Maman Gendeng yang menginginkan Rengganis, hingga akhirnya menjadi menantu Dewi Ayu.

Kisah Alamanda juga keteladanan Maya Dewi juga sangat menarik. Namun untuk yang terbaik, kisah antara ketiga cucu Dewi Ayu. Astaga, bisa semengalir itu. Krisan yang suka Ai, dan Rengganis Si Cantik yang suka Krisan. Krisan yang bak anjing hingga akhirnya ketiganya berakhir dengan kematian. Karakter pendukung seperti Kin Kin juga sangat menarik di novel ini. Sekali lagi untuk Eka Kurniawan, terima kasih untuk karya hebatnya.

Memoscore

Jangan ditanya. 10/10.

Artikel Lainnya