Satuan Fisiografis dan Geologis Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta, daerah yang berada di bagian selatan Pulau Jawa. DIY menjadi daerah dengan diapit oleh lautan dan pegunungan. Posisinya yang dekat dengan Gunung Merapi, Pegunungan Selatan dan Pegunungan Kulon Progo hingga dataran rendah yang berada di tengah-tengahnya.

Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki luas wilayah 3.186 km². Adapun wilayah tersebut memiliki 4 satuan. Satuan tersebut dibagi beradasarkan pada satuan fisiografis dan geologis Daerah Istimewa Yogyakarta. Satuan tersebut sangat berpengaruh terkait urusan kondisi geomorfologi.

Adapun satuan fisiografis dan geologis Yogyakarta dijelaskan di bawah ini.

1. Satuan Gunung Merapi

Satuan Gunung Api Merapi, satuan yang terbentang dimulai dari kerucut gunung api  hingga dataran fluvial gunung api. Satuan ini mencakup daerah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta dan sebagian Kabupaten Bantul.

Satuan Gunung Merapi membentang pada daerah lahan jenis vulkanik. Adapun daerah hutan lindung dan sebagai kawasan resapan air daerah bawahan termasuk dalam daerah kerucut dan lereng gunung api.

2. Satuan Pegunungan Selatan

Satuan fisiografis dan geologis selanjutnya adalah satuan Pegunungan Selatan. Satuan ini terletak di Kabupaten Gunungkidul. Satuan Pegunungan Selatan dikenal juga dengan sebutan Pegunungan Seribu. Disebut sepert itu karena didominasi wilayah perbukitan batu gamping (limestone) yang kritis, tandus dan selalu kekurangan air. Adapun pada bagian tengah satuan terdapat dataran yang biasa disebut Wonosari Basin.

Di bagian sisi utara, terdapatt perbukitan kerucut Gunung Sewu yang berbatasan langsung dengan dua buah basins. Basin tersebut yakni Ledok Wonosari pada bagian barat dengan Ledok Baturetno yang di bagian timur. Selain batas tersebut, masih ada batas utara yakni berpa punggungan tebing curam atau disebut dengan istilah steep escarpment. Batas ini memanjang dari daerah Parangtritis ke utara, di selatan Prambanan samppai dengan berbelok ke arah timur hingga Wonogiri.

Di sebelah utara batasan tersebut terdapat dataran rendah yang membentang. Di dataran rendah tersebut terdapat lipatan batuan yang lebih tua turun dan memiliki kedalaman yang berlebih., Dataran ini tertutupi oleh kipas-kipas fluvio-volkanik muda yang bersumber dari beberapa gunung api.

3. Satuan Pegunungan Kulon Progo

Satuan Pegunungan Kulon Progo berada di kawasan Kabupaten Kulon Progo tepatnya pada bagian utara. Pada bagian utara ini membentang lahan struktural denudasional. Topoografi pada bagian in berbukit dengan kondisi lereng yang curam dan berpotensi memiliki air tanahnya kecil.

Stratigrafi daerah Pegunungan Kulon Progo paling tua ini adalah Formasi nanggulan. Secara tidak selaras pada bagian atasnya terendapkan batuan-batuan dari Formasi Jonggaran dan Formasi Sentolo.

Adapun batuan penyusun dari formasi Nanggulan berdasarkan Wartono Raharjo (1977) adalah Batupasir dengan sisipan Lignit, Napal pasiran, Batulempung dengan konkresi Limonit, sisipan Napal dan Batugamping. Secara penelitian, Batupasir dan Tuf merupakan batuan dengan kaya akan fosil foraminifera dan Moluska.

Sementara untuk litologi dari Formasi Jonggrangan pada bagian bawah terdiri dari Konglomerat yang berada di bawah dari oleh Napal tufan dan Batupasir gampingan dengan sisipan Lignit. Batuan ini semakin ke atas bertransformasi menjadi Batugamping koral.

Tak hanya utu, Litologi penyusun Formasi Sentolo ini pada bagian bawah ialah Aglomerat dan Napal. Pada kondisi keadaan semakin ke atas, maka akan berubah menjadi Batugamping berlapis dengan fasies neritik.

4. Satuan Dataran Rendah

Satuan Dataran Rendah adalah satuan dengan bentang lahan fluvial. Bentangan fluvial ini didominasi oleh dataran alluvial. Dataran aluviall membentang pada bagian selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, dari Kabupaten Kulon Progo hingga daerah Kabupaten Bantul yang berbatasan langsung dengan Pegunungan Seribu.

Bentang lahan dari satuan daerah rendah ini terdiri bentangan lahan marin dan eolin yang berada di satuan wilayah pantai. Bentangan ini terbentang dari Kulon Progo hingga Bantul.