Cerpen BUNGA

Lebih baik mendengarkan lagu Bondan Prakoso & Fade2Black berjudul Bunga terlebih dahulu sebelum membaca cerpen ini.

Namanya Bunga. Dia tetanggaku. Kami sudah bertetangga cukup lama, tetapi baru kali ini aku tau bahwa yang namanya bunga itu memang secantik bunga. Sekarang coba bunga, aku ingin engkau dengar dan coba resapi hal ini. Bagaimana bisa kamu waktu itu menarikku yang tau kondisiku lagi sakau karena obat-obatan terlarangku. Kamu menarik dan menyelamatkan hidupku, bunga! Kamu lalu berkata,

“Kamu tidak apa-apa?”

Bagaimana tidak apa-apa kamu menjadi satu-satunya orang yang pertama kali hadir setelah sekian lama aku terpuruk dan tidak ada yang mendukungku. Mama, Papa, kalian tak bertanggung jawab seenaknya saja meninggalkanku di usia 17 tahun dan harus putus sekolah saat itu. Mama papa, kenapa kalian meninggal cepat di kecelakaan itu, kenapa aku tidak sekalian kalian bawa. Akibat tingkah kalian aku menjadi sakau sekarang. Tingkah kalian yang nikah lari terus menghasilkan aku, dan kalian meninggalkanku begitu saja, apa itu pantas wahai orang yang menyuruhku untuk menyebut engkau Papa dan Mama?

Bunga, di tengah emosi tengah meluap, hanya engkau yang mampu meredamnya.

“Namaku Bunga” ucapmu seperti matahari yang tiba-tiba menyinari biliku yang sudah 20 tahun tak dibuka dan gelap kondisinya di sana.  Dan sekarang semua pertanyaan seakan mulai menghampiri. Hampir sistem otak ku terusak seluruhnya, setelah obat-obatan ini yang merusak, kini kau juga ikut merusak sistem kerja otakku Bunga, haha.

Bunga. Di tengah lamunan ku kini tengah kembali kuingat wajahmu di angan-anganku. Bungaku terus ku ucap dalam hati. Hatiku merekah. Namun setelah itu ku lihat obat-obatanku lagi. Mereka dewa! Aku tidak bisa hidup tanpa dewa itu! Benar-benar nyaliku menciut. Dan sekali lagi Bunga, kuingin engkau mengerti, rasa cinta ini sungguh sangat menyakiti. Tapi… aku hanya makhluk yang tidak bermateri, dipandang setengah mata dan sama sekali tak punya reputasi.

Ini hanya syair yang ku buat tak bergema bunga, membuat dengan mata seakan tertutup, dan berandai cinta ini dapat kau sambut. Dan selalu berharap perasaan ini kau tahu, ku ingin ku ingin dan ku ingin kau jadi milikku. Tentu saja aku berkata cinta cinta dan cinta sepert iini dalam keadaan ingin bertemu tuhan alias sakau tingkat dewa. Biasanya aku berimajinasi melayang dan melayang. Kali ini beda melayang nya bersama kamu yang terus terulan ketika kamu berkata “lain kali hati-hati”. Aihh…benar sekali aku selalu ingin berkata aku cinta padamu bunga! Sial, ini sangat berat ku ucap, hanya perlu ku kagumi.

Bukan fiktif, sedikit naif, hanya sebuah realita. Sesederhana itu bunga, kehidupan orang yang ingin ketemu Tuhan. Hanya ucapan perkenalanmu saja sudah membuatku terbang entah langit ke berapa ini. Dan entah kenapa aku bisa menulis di kondisi sakau seperti ini. Ku coba hindari dulu fakta dan aku ingin posesif sekali ini saja, bahwa aku tidak ingin berdusta bahwa ku cinta kau bunga!

Kau tau bunga, ada hal buruk kenapa aku memilih mengagumi saja dan memilih untuk tidak bertemu lagi, karena ku rasa cinta hanya sebuah birahi semata. Entah dulu ketika awal aku sendiri tanpa ada mama dan papa, telah ku habiskan wanita berapa untuk hanya mencari kehangatan, oleh sebab itu aku tidak ingin kamu jadi kehangatanku. Jadi ku ulangi bunga, karena cinta tercipta hanya sebagai nafsu puas belaka,oleh karena itu kau takkan mengerti cinta, karena kau hanyalah bunga.

Terakhir. Aku sudah tak ingin menulis lagi. Cukup aku kagum saja padamu bunga. Buat kalian yang membaca, jangan mereka-reka hidupku lagi bagaimana kelanjutan hidupku selanjutnya. Yang ku miliki sekarang hanya fiktif bunga dan mungkin menunggu waktu untuk bertemu Tuhan.

Dan permintaan mungkin yang terakhirku, aku ada puisi, menggambarkan ketertarikanku terhadap wanita bernama bunga, jika yang membaca ini seorang musisi aku minta tolong untuk dibuatkan nada. Puisi singkat ku seperti ini.

“seakan mataku tertutup

kuingin cinta ini dapat kau sambut

harapkan perasaan ini kau tahu

sungguh ku ingin kau jadi milikku…..”

Hai musisi sudah adakah nadanya? Kalau sudah ada, ayo mainkan nadanya, temani aku bertemu Bunga.

Sekali lagi aku ingin bicara dengan Bunga

Benarkan bunga kamu bukan Cuma fiktifku belaka? Tolong katakan Bunga,

Benarkah?

………………….

Cerpen ini terinspirasi dari karya terbaik Bondan Prakoso & Fade 2 Black, saya mengagumi karyanya, dan lagu pertama yang membuat saya suka terhadap Bf2b ialah lagu Bunga. Dan cerita singkat ini adalah buah saya rindu akan karya Bf2b. Bondan tanpa f2b seperti ada yg kurang begitu juga sebaliknya f2b tanpa bondan juga ada yang kurang. Harapan saya sederhana, lengkapi kekurangan itu, bersatulah dan bersama suarakan dengan lantang lagibahwa suara tetap semangat itu tetap ada.

Artikel Lainnya