Cerpen: Melukis di Depan Dinding

[merupakan cerita cuplikan di novel Jejak Langkah yang Kau Tinggal yang terbit 2016 oleh Penerbit Ellunar]

Awalnya aku sedang melukis di depan dinding putih tanpa variasi apapun. Alasanku melukis saat itu bukan karna aku seniman, atau aku menyukai seni lukis melainkan aku sedang berlari dari kenyataan menuju lukisan sebagai objek pelarian dari masalah-masalahku. Lalu masalah apa yang menderaku ? Tunggu nanti akan aku ceritakan, namun untuk pertama-tama perkenankan aku mengenalkan diriku terlebih dahulu. Ups, maaf teman-teman aku sedang melakukan kesalahan sebelumnya, dan maaf juga aku tidak punya tipe-ex untuk menghapus tulisan ini dan aku benar-benar enggan mencoret tulisan ini, jadi aku tuliskan permintaan maafkanku. Maaf kenapa ? Karena aku tadi bilang perkenalan, aku sendiri tak tau namaku siapa masalahnya. Aku lupa ingatan, lupanya hanya namaku saja. Sangat aneh. Hal itu terjadi karena sebelum menjelang kematianku, aku awalnya melukis –sama seperti awal paragraf-.

Aku melukis, melukis, dan melukis. Tapi pada kenyataannya aku tidak sedang melukis, karna apa, karena aku sedang berada di depan dinding. Kertas putihku pun juga masih putih belum tergores apapun. Ya, mungkin berbeda jika aku melukis d ihadapan pemandangan gunung ataupun pemandangan lainnya. Tapi ya beginilah diriku, melukis di depan dinding, merupakan suatu hal yang terpaksakan. Lukisan itu memang akan jadi lukisan, tapi apakah mungkin hal yang dipaksakan melukis akan menjadi hal yang luar biasa ? Aku rasa itu hal yang mengada-ngada kalau saja bilang iya.

Lupakan soal lukisan, sekarang kembali bagaimana aku lupa akan namaku. Saat itu aku benar-benar seperti ada di neraka, dan aku memilih untuk melukis untuk melewatkan neraka ku sejenak, tapi kenyataannya tidak ada ide yang tertuang dari otak ku. Otak ku makin berat, aku tertekan. Akhirnya aku memilih untuk jalan-jalan terlebih dahulu di jembatan melihat sungai, berharap ada inspirasi untuk lukisanku dan meringankan penderitaan hidupku. Saat itu aku jalan menunduk dan sengaja tak melihat lalu lintas di sekitarku, sampai ternyata aku tersadar klakson berbunyi cukup nyaring di telinga ku. Mata ku terbelalak. Tubuhku rasanya mau melepaskan sendi-sendinya. Aku tertabrak, dan aku tak ingat dengan persis, yang pasti aku sadar aku tertabrak dan tiba-tiba saja aku hanyut dalam sungai. Ingat teman, saat itu aku masih hidup. Aku juga berulang kali coba berteriak minta tolong, namun apa daya tak ada satupun orang yang menolongku, sampai kepalaku ini terbentur batu yang sangat besar, dan aku rasa aku telah mati.

Aku bisa bercerita seperti ini bukan aku ingat kejadiaannya, melainkan ada yang cerita kepadaku, mengapa aku bisa seperti ini. Iya yang cerita iyalah dari sebangsaku, bukan manusia yang pasti. Dia hitam, besar dan ah aku tak mau mendeskripsikannya, nanti teman-teman malah tidak membaca tulisan ini jika aku mendeskripsikannya.

……………………………………………………………………………………………………….

Teman-teman aku minta maaf lagi jika aku telah membuat lembaran ini pada awalnya tidak enak dibaca, dengan memperkenalkan diriku yang sudah mati, Tapi aku minta tolong, jangan tinggalkan bacaan ini, ada yang mau aku sampaikan.

Sekarang aku menulis bacaan ini dengan meminjam tubuh laki-laki yang sedang termenung di dekat sungai, dekat dengan tempat kematiaanku. Dengan tubuhnya aku hanya ingin bercerita. Dan sekarang ceritaku akan dimulai.

Dulu sebelum kematianku, aku adalah anak satu-satunya di keluargaku. Dulu keluargaku sangat harmonis, namun semenjak ayah ku mati karena bunuh diri karna perusahaannya bangkrut dililit hutang, kehidupanku seperti berada pada neraka. Ibu ku seperti kebingungan mencari uang. Dia memilih untuk menjual dirinya. Ya, aku sebut dengan lantang, ibu ku adalah pelacur. Dan karna pekerjaannya lah aku menjadi punya adik lagi. Namun tak lama kemudian, sekisaran lima bulan adik ku itu mati. Ya seperti yang kalian duga teman-teman, adik ku mati karna kurangnya nutrisi yang diberi ibukku. Ibuku pun makin frustasi, imbasnya aku harus putus sekolah karna tidak ada dana yang mendukung. Kemudian akhirnya aku dipekerjakan ibuku, sebagai pengamen. Bahkan tak segan-segan ibu ku melempariku dengan gelas kaca jika aku pulang tak membawa uang yang sesuai keinginannya. Yah karna lemparan gelas-gelas kaca tersebut menjadikan wajahku jadi tak berbentuk.

Ibuku mengajariku untuk menyerah lebih awal. Padahal jika ibuku mau berjuang dan tak mengenal kata menyerah mungkin sekarang hidupku akan lebih baik, namun apalah daya ibuku mengajariku seperti itu, dan aku juga harus seperti itu. Karna itulah sekarang aku sedang berusaha membuang masa-masa neraka ku. Aku seharian pergi dari rumah dan membawa secarik kertas gambar untuk melukis di dekat sungai.

Aku melukis, tapi aku bukan melukis di depan pemandangan melainkan melukis di depan dinding. Dinding yang putih. Aku tak tau mengapa memilih melukis di depan dinding yang putih seperti ini. Mungkin alasannya ialah karna aku tak bisa bergerak secara bebas dikehidupan, hidupku selalu diatur, ibaratnya ya seperti melukis di depan di dinding. Memang masih bisa ada hasilnya, tapi hasilnya bakal tidak sebagus jika melukis didepan pemandangan langsung. Itulah sekiranya yang aku rasakan.

Kemudian sama seperti awal cerita ku. Aku tak bisa melukis karna dinding itu sangat tak memberiku inspirasi. Kemudian aku mencoba berjalan-jalan menuju jembatan, sampai akhirnya mautku menjemputku. Aku mati. Aku mati dan aku mati. Sekarang aku sudah menjadi bagian dari mereka. Aku lega. Nerakaku sudah berlalu. Bolehkah aku tertawa sekarang teman-teman ? HAHAHA.

Namun bacaan ini belum usai teman-teman, masih ada ibu ku sebagi objek cerita. Ternyata setelah aku mati, ibuku bingung mencari ku. Dia kelabakan, bahkan sangat kelabakan. Aku yang melihatnya dari dunia yang berbeda cukup hampir menangis melihatnya. Ya, dia masih ibuku. Dan saat itu aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan. Tuhan, tolong lewatkan neraka bagi ibuku. Tak lama kemudian Tuhan mengabulkannya. Ibuku tidak mati ya teman-teman, namun kehidupannya aku rasa sudah berakhir, nerakanya sudah terlewat. Ibuku jadi gila. HAHAHA. Aku tertawa meringis menulis bacaan ini teman-teman, anda kalian tahu.

Teman-teman yang pengertian, itulah ceritaku. Aku hanya ingin bercerita seperti itu, supaya aku tak terus mencari korban lagi untuk sungai ini. Aku lelah telah membunuh beberapa manusia. Bersama dengan tulisan ini wahai orang yang aku rasuki, tolong sampaikan tulisan ini pada teman-temanmu bahkan dunia, jangan cepat menyerah dengan keadaan. Jangan mengambil jalan pintas atas nerakamu jika kamu mau surga menganga untukmu. Sekali lagi aku berterima kasih untuk kau yang telah aku rasuki. Terima kasih. Aku keluar. 

——————————————————————————————–

Aku berbohong jika aku tak menganggu kehidupan kalian lagi wahai manusia. Aku terusik karena kalian yang memulainya. HAHAHA. Ini seperti dejavu pada kejadianku. Ada seorang anak yang melukis di depan dinding dekat sungai saat ini, sama seperti dulu menjelang kematianku. Dan sekali lagi, wahai manusia, maaf aku merasuki bangsa kalian lagi.

Sekarang aku sedang melukis, ralat aku bukan sembarang melukis melainkan menggambar dengan darah. Ya, orang yang aku rasuki berbaik hati memberikan darahnya untuk menjadi kanvas bagi lukisanku. Aku sangat senang, inspirasi mengalir dengan derasnya untuk lukisanku. Ah ini luar biasa, aku benar-benar melukis. Ini luar bisa. Bolehkah aku tertawa lagi teman-teman, ini luar biasa. HAHAHA.

Wahai teman-teman yang membaca bacaan ini, apa kalian tau apa yang aku lukis ? HAHAHA aku melukis. Aku melukis kehidupanku saat ini. Dan teman-teman, aku mau bertanya, masih tentang lukisan. Apa yang sudah kau lukis untuk hidupmu wahai teman-temanku ? Cobalah tanyakan pada ibumu, bapakmu, dan resapi pada dirimu sendiri, apa yang telah kau lukiskan saat ini. Apakah jangan-jangan kau sama sepertiku, melukis di depan dinding ? Jika Iya, aku akan tertawa sekali lagi. HAHAHA.

Artikel Lainnya